Langit Biru 50X
Permohonan Maaf Secara Terbuka

Dengan ini saya menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terkait dan kepada diri saya sendiri dikarenakan telah melakukan dan/atau menjalani hal-hal yang pada dasarnya tidak ingin saya lakukan dan/atau jalani selama satu tahun ke belakang.

Demikian surat permohonan maaf ini saya sampaikan, dimohon agar maklum.

Bandung, 27 Januari 2012

Wilman Fathurochman

sepertinya blog lebih menarik dari tumblr

Entah kenapa saya yakin ini adalah satu semester dimana semua wacana pada semester-semester sebelumnya bisa jadi kenyataan.

7 Kemarau (bagian 1) : Mata Angin

Dia duduk di antara anak-anak itu. Dia mengerti betul bahwa dia berbeda, namun dia juga sadar dirinya harus tetap berada di situ. Ruangan kelas ini begitu sumpek ditambah kebisingan makhluk-makhluk kerdil yang kadangkala bisa nampak lucu dan menggemaskan, namun tak jarang tingkahnya dapat menjengkelkan orang yang lebih berumur dari mereka. Dindingnya yang terbuat dari kayu menambahkan aroma yang tidak karuan. 

“Tan, daripada melamun baiknya kamu ajari mereka ilmu hitung sana!” Kata Ibu Hasni setengah mengagetkan.

“Biarkan lah, Bu. Nanti kalau sudah besar juga mereka mengerti sendiri.” Jawab Sutan agak ketus. Sebetulnya Sutan adalah sosok yang didewakan anak-anak ini, dia berlaku seperti kakak asuh buat mereka. Logikanya yang matang, sangat matang untuk usianya, kedewasaan, serta kepemimpinannya sangat mendukung dalam hal ini. Tentu saja, itulah yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin untuk memukau bawahannya, atau kakak asuh untuk menjaring kelincahan adik-adiknya.

“Daripada mengajari ilmu hitung, lebih baik aku bacakan dongeng buat mereka, Bu. Aku yakin itu lebih berguna.” Kata Sutan lagi, kali ini dengan helaan napas.

“Dari kemarin ndongeeng terus kerjamu.”

“Ya jelas, Bu. Aku ini baru sebelas tahun, sama seperti mereka.” Tukasnya, Sutan mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya yang lain. Kondisi kelas memang kerap kali kacau, apalagi bila Sutan sudah diajak bicara oleh Bu Hasni. Namun toh Sutan lebih senang bicara dengan Bu Hasni daripada dengan teman-temannya.

“Oh, iya tentu Sutan, tapi apalah artinya fisikmu itu dibandingkan dengan otakmu? Selama kamu memiliki kelebihan, kamu juga memiliki kewajiban lebih, Tan.” Bu Hasni mencoba mendebat, matanya lekat menatap Sutan

“Ibu kan tahu sendiri posisiku sekarang dimana, kadang aku harus jongkok bahkan tiarap untuk bisa meraih mereka, Bu.” 

“Apapun caranya, mau kamu harus jongkok, tiarap, loncat, terbang, yang penting yang kamu raih itu bermanfaat, Sayang. Ibu juga kalau ada di posisimu sekarang pasti males, tapi ya memang begitulah sesuatu yang baik itu, banyak cobaannya.” Kata-kata tersebut keluar dari mulut Bu Hasni diselingi dengan jeda-jeda kecil. 

“Aduh jangan pake sayang, Bu! Geli aku. Lagipula memang Ibu ngerti gimana jadi aku ini?” Semakin kesal Sutan, namun juga semakin tertarik pada perdebatan ringan ini, matanya kini berani menatap balik Bu Hasni.

“Haha, oh iya maaf Ibu lupa,Tan. Biarpun Ibu ini nda’ tahu rasanya jadi kamu, tapi Ibu pernah jadi anak 11 tahun dan pernah juga jadi remaja 20 tahun. Kamu harusnya tau itu, Tan.” Dan sekarang keduanya terdiam, diiringi riuh rendah suara bising anak-anak sebelas tahun lainnya.

“Tapi Ibu belum pernah main gobak sodor di umur 20 tahun kan? Seru lho, Bu! Haha.” Keduanya tergelak, Bu Hasni tahu dibalik kalimat itu sebenarnya Sutan berkata,”Ya Tuhan, Engkau kemanakan masa kecilku sampai-sampai aku tidak sadar pernah memilikinya?”

Kerjanya anggota DPR ngapain sih selain rapat? Ada lagi gak? Jujur saya gak tau karena gak punya kenalan orang DPR. Kalau beliau-beliau memang punya kerjaan lain selain rapat dimana kerjaan lain itu berkaitan dengan negara, sejujurnya saya tidak keberatan mereka tidur di ruang rapat asalkan beliau-beliau ini berkontribusi benar dalam kerjaannya yang lain itu.

Karena saya mahasiswa, tau rasanya ketika rapat dan kalau orang di dalam forum rapat tersebut kebanyakan, rapatnya gak efektif apalagi ketika hanya membahas konsep, bukan teknis. Cukup beberapa kepala saja yang rapat kalau gitu.

Karena saya mahasiswa, saya juga sering tidur atau merasa bosan dalam rapat-rapat yang telah saya ikuti apalagi kalau sudah ada kesan “wah ini mah mereka lebih ngerti kayaknya,saya ngikut aja”. Itu waktu rapat, jangan tanya gimana tuh mahasiswa kalau lagi kuliah. Sama aja kok kayak beliau-beliau yang di bangar.

Kedengarannya seperti mahasiswa gabut? Ya memang. Tapi negeri ini gak butuh pemimpin banyak-banyak, beberapa kepala asal punya komitmen sudah cukup, yang lain tinggal ngikut, dan ngikut yang bener-bener ngikut bukan sekedar ikut-ikutan.

Analoginya gini, kalau saya dosen saya gak akan dan gak bisa menyalahkan mahasiswa yang sering tidur di kelas tapi nilai akhirnya dapet A atau AB. Dengan asumsi dia tidak mencontek. Anggaplah si nilai akhir itu urusan negara, terserah Bapak/Ibu mau tidur, jungkir balik, nonton bokep juga gak apa-apa asal negara keurus.

Loh, tapi kan mereka pemimpin, harusnya jadi teladan dong?

Teladan? Saya rasa seseorang akan meniru pemimpinnya kalau sudah sadar bahwa pemimpinnya dan hasil dari apa yang dipimpinnya itu baik, bukan menirunya di awal tanpa mengetahui kredibilitas pemimpinnya.

Balik lagi ke awal, itu kalau beliau-beliau di sana ada kerjaan lain selain rapat loh ya, kalau emang kerjanya rapat doang ya mereka gak boleh tidur. 

***

To criticize is easy, so easy that you enjoyed every word coming out from your mouth. Mind seeing it from another point of view?

Semua aja dianggap pemuja setan, semua yang ada piramid, mata pecak, atau tangan metalnya. Untuk apa juga sebuah organisasi yang menguasai dunia yang katanya rahasia mau mengekspos simbol-simbolnya ke depan publik? Kalau memang itu simbolnya.

Namanya Pak Haji Kohmir

20 Januari 2012

Jalanan tidak begitu sepi, tidak ramai juga. Sekitar pukul 21.00 saya baru selesai nonton film Paranormal Activity 3 di Ciwalk bersama beberapa orang teman dan filmnya serem banget sih emang. Menimbulkan kesan paranoid paling tidak sampai sehari setelahnya untuk saya, haha.

Jalan pulang saya dari Ciwalk adalah melewati Plesiran, Gelap Nyawang, Jl. Ir. Juanda lalu angkot Kalapa-Dago. Melewati gang-gang Pelesiran memang membingungkan, pemukiman padat penduduk yang mungkin hanya Tuhan yang tahu satu per satu tembusan dari gang-gang ini, untungnya saya ditunjuki jalan oleh salah seorang teman sehingga berhasil keluar dari labirin ini dengan sedikit keberuntungan dan insting. Sambil menggendong tas ransel berisi laptop Toshiba 14” yang beratnya kayak batu bata, saya berhasil menghirup udara segar jalan raya.

Keluar dari Plesiran, di pertigaan Ayam Bungsu dan Mas Han, seorang lelaki paruh baya memanggil saya, rambutnya agak beruban dengan perawakan sedang, perut agak buncit. Dia mengenakan kemeja coklat bergaris-garis hitam vertikal dan celana bahan panjang.

“Dek, maaf numpang tanya, tau Jalan Pak Haji Sigiri?” Atau Pak siapapun itu, setidaknya itu yang terdengar di telinga saya.

“Wah gak tau Pak? Itu daerah Plesiran atau mana?” tanya saya

“Waduh ndak tau juga, dek. Saya bukan orang sini, Adek orang sini?”

“Iya Pak saya orang sini”

Ekspresi wajah lelaki ini seakan berkata, “orang sini kok gak tau alamat yang saya tanya?” Saat itu juga melintas seorang pria bertopi dengan kemeja kancing terbuka dan kaos putih, celana jeans, dengan tas ransel di punggungnya. Kasual layaknya mahasiswa. Lelaki paruh baya itu memanggil si pria bertopi sebelum akhirnya dia menghampiri kami. Dengan pertanyaan yang sama si lelaki paruh baya menanyakan alamat kepada si pria bertopi.

“gini aja Pak, alamatnya mana?” tanya si pria bertopi, maksudnya alamat dalam bentuk tertulis.

“nah itu dia dek, tadi jatuh alamatnya. Adek berdua ini mahasiswa?”

“Iya” Jawab saya dan si pria bertopi

kemudian si lelaki paruh baya mengulurkan tangannya kepada si pria bertopi mengisyaratkan dia hendak berkenalan. Wah, jangan-jangan ini orang mau ngehipnotis. Saya mengamati ketika lelaki paruh baya ini berjabatan tangan dengan si pria bertopi. Tidak terjadi apa-apa.

“Pak Haji Kohmir” Kata si leleaki paruh baya

“Delon” Kata si pria bertopi. Ya anggap saja itu namanya soalnya jalanan sedang ramai waktu itu jadi saya tidak terlalu jelas mendengar namanya.

Kini giliran Pak Haji Kohmir menjabat tangan saya.

“Wilman” Saya menyebutkan nama dengan agak bergumam sehingga tidak terdengar begitu jelas. Padahal kasih nama palsu aja sekalian ya.

Singkat cerita Pak Haji Kohmir yang masih kebingungan meminta saya untuk meng-sms seseorang yang dia hafal nomornya, haha aneh karena saya tidak begitu yakin dia hafal. Benar saja, smsnya langsung mendapat laporan tidak terkirim.

“Pak gak kekirim pak SMS nya, nomernya bener ini?”

“Iya, yasudah lah ndak apa-apa.” Yee,gimana sih Pa ‘Aji ini

“Kalau saya mau pulang ke Cirebon gimana ya Dek?” Tanya Pak Haji. Waduh saya nyerah kalau ditanya arah jalan, untung ada si Delon yang katanya orang Jakarta. Watdehel.

“Wah Bapak harus ke terminal Leuwi Panjang dulu kalo gitu, kalo nggak Bapak naik angkot dari sini nih (Caheum-Ledeng) ke arah sana (Ledeng) terus nanti tanya sama dripernya.” Kata si Delon

“Ooh gitu, driper itu apa?” Tanya Pak Haji,

“Itu loh, supir Pak” Jawab Delon

Yakali bang, bilang sopir aja napa?

Lalu tiba-tiba Pak Haji Kohmir menanyakan arah mata angin pada kami berdua.

“Dek, kalau Utara mana? Timur? Barat?” 

Untung saya kuliah di ITB jadi tahu mana utara,selatan dsb karena ada gerbang utara, gerbang selatan, GKU Barat dan GKU Timur. Saya pun dengan faseh memberitahu Pak Haji. Nah lebih aneh lagi nih si Pa ‘Aji malah ngomong bahasa arab yang entah surat apa atau hadits mana yang artinya kurang lebih kata beliau, apabila kau menuntut ilmu maka janganlah ada perasaan sombong. Buset, ini orang tujuan awalnya emang bukan cari alamat deh kayaknya. Tiba-tiba tangan Pak Haji mengeluarkan  benda berwarna emas, bentuknya seperti Kujang, kemudian memberikan benda itu kepada kami masing-masing satu. Katanya kenang-kenangan dari Mekah-Cirebon, Ya Alloh apa lagi ini? Saya cuma pengen pulang, ini laptop beratnya udah kayak dosa.

“Sekarang coba kamu berdua baca bismillah 3x, jalan 200 langkah ke arah laut, arah laut kemana ya Dek? Utara? Selatan?” Kata Pak Haji

“Ya laut mah dimana-mana ada Pak.” Jawab saya, si Delon terkekeh, Pak Haji terdiam sejenak. ” Ya sudah kalian jalan ke utara 200 langkah, kalau bendanya terasa makin berat saya ambil lagi, kalau nggak kalian boleh ambil itu.”

“Ini mangpaatnya apa Pak?” Tanya Delon

“Macem-macem, bisa buat belajar, kesehatan, bla bla bla…Sekarang silakan ucapkan bismillah 3x lalu jalan berdua ke Utara 200 langkah, sambil ngobrol ya kalian”

Di benak saya terlintas kecurigaan mungkin si Delon dan Pak Haji ini sekongkol, karena jalan Tamansari setelah Kebun Binatang itu sepi, takutnya dipalak atau gimana. Selain itu juga saya tidak percaya dengan jimat-jimat dsb, bahkan horoskop pun saya tidak percaya.

Mata si Delon sudah mengarah pada saya, mengisyaratkan “Ayok buruan cabut 200 langkah!”

“Waduh saya gak bisa Pak, rasanya di sini sudah berat deh.” Kata saya ke Pak Haji

“Hah? Bohong kamu kalau sudah berat di sini!”

Ebuset, orang barangnya di gua sekarang, kenapa lo tau ga berat?

“Waduh maaf Pak, tapi saya orangnya kurang percaya sama yang beginian.” Saya menimpali.

“Ini sare’at dek, sare’at” Katanya, kemudian menatap Delon seakan bilang “ayo dong kamu pasti mau kan?”

“Waduh saya juga sebenernya kurang percaya sih Pak.” Kata Delon seketika itu juga

Hening sejenak, awkward moment. Kemudian Pak Haji Kohmir menengadahkan tangannya ke arah saya, saya kasih aja tuh kujang emas. Begitu pula dengan Delon.

“Angkot yang arah kesana ya?” Tanya Pak Haji

“Iya Pak”

“Assalamu’alaykum”

“Waalaykumsalam”

***

Sebenernya pengen nanya-nanya juga sih ke Pak Haji Kohmir ngapain dia ngasih jimat secara cuma-cuma sama 2 orang asing, cuma waktu itu karena sendirian dan takut kejadian apa-apa jadi yaudah mending pulang aja. Si Delon juga langsung cabut entah kemana. Kasian juga liat Pak Kohmir, kemana orang-orang terdekatnya? Kenapa beliau gak cari kerja aja daripada luntang-lantung gak jelas? Kalau jimat itu memang berguna kenapa gak dia pake sendiri?

Kalau ada diantara kawan-kawan yang ketemu beliau di sekitaran kampus tolong bantuin ya,hehe. Beliau keliatannya gak berbahaya kok.

haekalpulungan:

Cikal bakal Intersect? Hehe
did-you-kno:

Source


Apocalypse!

haekalpulungan:

Cikal bakal Intersect? Hehe

did-you-kno:

Source

Apocalypse!

Just Saying

Did you know that Cobb never spin his totem again after Yusuf sedated him? So the next story after that could’ve been just his dream all along

When i say bad things about women, i exclude my mom…and my crush. Hahaha